Advertisements
  • Categories

  • Archives

Tingkatan Derajat Manusia (Khutbah Jum’at)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ … أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى، حَيْثُ قَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Saudara-saudara kaum muslimin rahimakumullah… Ada 2 orang yang berdo’a bersama-sama, di tempat-waktu yang sama, bunyi do’a yang sama, tetapi belum tentu do’a semuanya dikabulkan oleh Allah. Mengapa demikian? Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya usaha dari do’a dan tingkat keimanan/kesalehan orang tersebut. Padahal dalam al-Qur’an kita disebut sebagai umat terbaik (khairo ummah), “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…,” (QS Ali Imran [3]: 110).

Apa dan siapa sebenarnya yang dimaksud dengan umat terbaik itu, dan bagaimana karakteristiknya? Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai hal ini. Di antara mereka ada yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan umat terbaik itu adalah para ahlul bait, yaitu Ali bin Abi Thalib, Fatih az-Zahra, Hasan, Husein, dan keturunannya. Penafsir lain menyebutkan bahwa umat terbaik itu adalah mereka yang masuk dalam jajaran as-saabiqunal awwalun, yaitu para sahabar Muhajirin dan Anshar. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (2005: 184) menyebutkan bahwa umat terbaik itu tertuju kepada seluruh umat Nabi Muhammad dari generasi ke generasi berikutnya karena ada sifat-sifat yang menghiasi diri mereka, yaitu mereka yang terus menerus tanpa bosa menyuruh kepada yang makruf, yakni apa yang dinilai baik oleh masyarakat selama sejalan dengan nilai-nilai Ilahi dan mencegah yang munkar, yakni yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur, pencegahan yang sampai pada menggunakan kekuatan dan kalian beriman kepada Allah dengan iman yang benar sehingga atas dasarnya kalian percaya dan mengamalkan tuntunan-Nya dan tuntunan Rasul-Nya. Dengan demikian, umat terbaik yang dimaksud oleh ayat tersebut paling tidak memiliki tiga karakter, yaitu: ber-amar ma’ruf, ber-nahi munkar, dan beriman kepada Allah. Dengan tiga karakter itu, maka setiap orang berpeluang menempati posisi sebagai umat terbaik.

 dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.[al-An’am/6:132]

Oleh karena itu paling tidak dapat dipetakan derajat pengamalan keagamaan seseorang menjadi 4 golongan:

(1) Ghofilin – kaum yang lalai. Lalai akan kewajibannya sebagai hamba, lalai akan tugas dan tanggung jawab sebagai manusia, bahkan berani menentang hukum-hukum yang ada termasuk menentang syariah Islam. Implikasi: diingatkan dan dituntun.

Sesungguhnya kamu berada dalam Keadaan lalai dari (hal) ini, Maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, Maka penglihatanmu pada hari itu Amat tajam. [Qaaf/50:22]

orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang Munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. [QS. At-Taubah/9: 67] 

dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. [al-A’raf/7: 179]

(2) Mubtadiin – kaum pemula – anak-anak. Bahwa larangan dan suruhan masih sebatas kemauan dan kesempatan untuk melaksanakan, belum menjadi rutinitas. Implikasi: berikan bimbingan

 Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di Setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)”. [al-A’raaf/7:29]

Diantaranya ciri-cirinya: (1) lebih mementingkan duniawi daripada ukhrawi; (2) lebih mengutamakan kesenangan daripada kewajiban; (3) belum membekasnya ibadah kedalam perilaku sehari-hari; (4) belum dijadikannya Alquran Hadits sebagai sumber pokok ajaran hidup, tetapi lebih mengutamakan tradisi/kebiasaan/adat/ajaran nenek moyang. (3) ‘Abidin – kaum yang gemar beribadah. Cirinya adalah melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan merupakan ada balasan pahala dan surga-neraka, senang jika masuk surga dan takut masuk neraka. Implikasi: pertahankan dan tingkatkan.  … mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah. [al-Ambiya’/21:73]

dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. [al-Furqan/25: 63)

Ciri lain: (1) lebih mengutamakan kepentingan ukhrawi daripada duniawi; (2) mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari [cara bicara, adab-adab sehari-hari/dengan doa-doa]; (3) menghindari perbuatan yang sia-sia (اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ)/tidak berguna – menjauhi prasangka إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ اَلظَّنَّ أَكْذَبُ اَلْحَدِيثِ (4) senang mengkaji/belajar dari Alqur’an Hadits. (4) ‘Arifin – kaum yang bijaksana. Golongan yang menjalankan perintah karena kebutuhan bukan lagi kewajiban, dan meninggalkan larangan karena keharusan bukan ketakutan yang semuanya dilandasi karena kecintaan pada Allah dan rasulNya. Implikasi: sebarkan untuk ditirukan. Inilah golongan para nabi – auliya’. اِزْهَدْ فِي اَلدُّنْيَا يُحِبُّكَ اَللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ اَلنَّاسِ يُحِبُّكَ اَلنَّاسُ. رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. [al-Anfal/8:2]  Maksudnya: orang yang sempurna imannya. Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Bagaimana mungkin doa-doa kita diterima Allah, sementara kita tidak pernah mengenal-Nya. Bagaimana munkin kita dekat dengan Allah sementara kita tidak pernah dekat dengan-Nya. Oleh karena itu, minimal kita ada ditingkatan yang ketiga (Abidin)

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: